Review Novel: Kesturi dan Kepodang Kuning by Afifah Afra



Judul : Kesturi dan Kepodang Kuning
Pengarang: Afifah Afra
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : Pertama, 2013
Tebal : vi + 314 halaman
ISBN : 978-602-02-1220-3
Dibaca melalui aplikasi Ipusnas



BLURB

Di gubuk tua peninggalan ayahnya di tepi hutan, Sriyani mencoba membangun kembali kehidupannya yang porak poranda. Bersama bayinya, Kesturi, mereka melebur dalam harmoni alam. Termasuk menjalin persahabatan yang indah dengan kepodang-kepodang yang rajin mendatangi gubuk mereka.

Persahabatan mereka menyedot perhatian Satrio, seorang peneliti sekaligus pencinta alam.Lelaki berhati lembut itu menyelusup dalam kehidupan mereka dan diam-diam mendentingkan kembali harapan di hati Sriyani. Akan tetapi, harapan Sriyani nyaris terenggut oleh dua hal sekaligus: sesosok jelita yang selalu ditatap Satrio penuh kekaguman, dan sebuah proyek pembangunan beraroma korupsi. Harmoni itu pun terancam pecah berkeping-keping

SINOPSIS

Sriyani merupakan seorang perempuan desa yang sejak kecil sudah merasakan kepahitan hidup. Sang Ayah meninggal secara tragis pada peristiwa 1998, berapa tahun kemudian disusul oleh sang Ibu karena menderita penyakit TBC. Dalam usia yang masih belia Sriyani hanya tinggal bersama dua orang adiknya di sebuah gubuk sederhana peninggalan orang tuanya yang terletak di tepi hutan Girijati.

Melihat kepedihan hidup yang dialami oleh Sriyani. Pak Suseno, seorang mantri di perkampungan tempat Sriyani tinggal memutuskan untuk mempekerjakan Sriyani di rumahnya sebagai pembantu, sementara adik-adiknya dimasukkan ke panti asuhan demi mendapatkan pendidikan yang layak

Singkat cerita, Pak Suseno yang kesepian karena tinggal berjauhan dengan Istrinya diam-diam menaruh obat tidur ke dalam minuman Sriyani. Berada di baah pengaruh obat tidur hingga tak sadarkan diri, Sriyani pun tak mengetahui bahwa dirinya tengah hamil.

Setelah diusir oleh Pak Suseno, Sriyani kembali tinggal di gubuk peninggalan orang tuanya sambil menunggu bayinya lahir. Setelah melahirkan bayi perempuan cantik yang diberi nama Kesturi, Sriyani kerap bersahabat dengan burung Kepodang berwarna kuning yang selalu datang mengunjunginya saat Sriyani memainkan demung (salah satu instrumen gamelan yang dimainkan dengan cara dipukul). Kepodang kuning telah menjadi sahabat juga bagi Kesturi, yang selalu tertawa riang saat bercengkerama.

Tanpa disadari persahabatan mereka yang unik menarik perhatian seorang pemuda bernama Satrio, pemuda pencinta alam yang juga merupakan aktifis volunteer Green Earth--NGO khusus lingkungan yang berpusat di Jenewa, saat dia sedang mengadakan penelitian di hutan Girijati.

Perkenalan Satrio dengan Sriyani dan Kesturi membuat pemuda tersebut terlibat dalam harmoni sebuah persahabatan yang unik, bahkan Satrio membuat sebuah video dokumenter tentang Kesturi dan Kepodang Kuning

Disaat yang bersamaan, kakak Satrio yang bernama Rajendra terlibat dalam sebuah proyek pengalihan lahan hutan Girijati menjadi destinasi wisata berstandar internasional. Namun diduga proyek tersebut mengandung unsur korupsi

Disatu sisi proyek tersebut mengancam kesejahteraan rakyat Girijati, para penduduk harus rela tanahnya ditukar dengan harga yang tidak seberapa. termasuk gubuk milik Sriyani. Mampukah Sriyani mempertahankan gubuk peninggalan orang tuanya tersebut? 

REVIEW

Novel ini mengambil tema kombinasi, yaitu antara tema lingkungan hidup, budaya, dan dunia politik. Setting yang digunakan adalah sebuah pedesaan yang terletak di tepi lembah. Novel ini relatif ringan karena bisa dibaca sekaligus. 

Tapi saya sendiri membacanya dalam waktu 3 hari, bagian-bagian awal novel ini menurut saya agak terasa membosankan dengan alur cerita yang sudak klise. Saat pertengahan baru deh terasa seru dan khas Mba Afifah banget, permainan diksinya juga sangat indah. Selain itu pemaparan setting cerita digambarkan dengan sangat detil oleh penulis

Dalam novel ini juga digambarkan betapa dunia politik itu tidak ada yang benar-benar bersih. Agak ngeri juga membayangkan betapa yang kaya semakin kaya sedangkan yang miskin semakin terpuruk

Sebagai penggemar karya Mba Afifah Afra, saya tahu betul kalau penulis merupakan seorang sarjana sains biologi. Gak heran kalau dalam novel ini juga terasa kental istilah-istilah biologinya

Dari segi cerita, saya suka dengan alurnya. Seperti biasa Mba Afifah sangat piawai memainkan plot, meski dalam novel ini termasuk yang paling sederhana plotnya

Endingnya juga membuat novel ini semakin manis. Salah satu karya Afifah Afra yang wajib dibaca

0 Comments