Sudah satu pekan lebih sekolah diliburkan karena wabah virus Corona atau biasa disebut Covid 19, sebagai guru saya pun secara otomatis merasakan juga yang namanya work from home atau bekerja dari rumah, pembelajaran anak murid juga diberlakukan secara daring. Ya namanya juga bukan liburan kan, jadi meski di rumah tetap aja kudu ngecek tugas anak-anak via ponsel pintar. Nah gak lama sejak diberlakukannya pembelajaran secara daring, di media sosial rame emak-emak yang kewalahan alias jadi ikutan repot gegara anaknya dikasih tugas yang numpuk dari sekolahnya. Maklum mendekati ujian jadi kayaknya banyak guru yang masih ngejar materi. Di tempat saya ngajar pembelajaran diberlakukan jadwal normal meski jarak jauh. Jadi kalo misalnya dalam sehari ada lima mata pelajaran artinya murid juga menerima sebanyak lima tugas yang harus dituntaskan pada hari itu.
Tampilkan postingan dengan label Slice of life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Slice of life. Tampilkan semua postingan
Assalamualaikum
Hayo, siapa yang gampang baper (bawa perasaan/tersinggung)? Perasaan baper seringkali dialami oleh mereka yang hatinya sensitif sehingga sering disebut baperan. Nah, terkadang menjadi pribadi yang mudah baper itu sangat menyebalkan lho, makanya kita wajib untuk menempatkan baper kita di saat yang tepat. Coba perhatiin lebih detail lagi deh orang-orang disekelilingmu, pasti mereka ogah dekat-dekat denganmu kalau kamu mudah baperan.
Pulang mengajar tadi hampir mendekati maghrib saat motor suami sampai di depan rumah kami. Saya yang seharian sedang demam, sudah membayangkan betapa enaknya saat sampai di rumah langsung selimutan di kasur, bahkan niat untuk melewatkan mandi sore 😂
.
Sampai di rumah begitu masuk dan membuka pintu belum sadar juga, begitu melihat kamar belakang yang kosong karena kasur dijemur di teras, barulah saya ingat kalau dua hari yang lalu kompleks perumahan kami memang banjir. Air yang berhasil masuk ke rumah kami memang tidak seberapa dibandingkan beberapa tetangga kami. Hanya saja saat kejadian tak seorang pun berada di rumah sehingga kasur tak terselamatkan
.
Akhirnya pudar sudah leyeh-leyeh sepulang dari aktifitas, yang ada kami harus kerja bakti membersihkan rumah supaya nyaman untuk tidur malam harinya
.
Tidak butuh waktu lama bagi kami bebersih rumah, selepas isya kami sudah leyeh-leyeh di tempat tidur sambil selimutan bertiga 😁
.
Banjir yang kami alami belum seberapa. Bahkan air yang masuk ke rumah kami tidak layak disebut banjir, namun lebih layak disebut genangan 😁. Masih banyak yang lebih parah dari kami. Terlebih bencana di daerah lain, tentu belum ada apa²nya yang kami alami disini
.
Tetanggaku juga cerita, saat banjir kemarin anaknya yang masih kecil malah senang bermain-main dengan sepatu bootnya, mungkin membayangkan jadi mermaid kali ya 😂😂
.
Intinya belajar saja dari anak kecil, tetap tertawa bahagia meski bagaimanapun keadaannya 😊.
.
@30haribercerita
#30hbc19
#30hbc1928
Banyak yang bilang kalau bahagia itu sederhana, nampaknya ungkapan tersebut benar adanya. Buktinya beberapa orang seringkali menemukan kebahagiaan dari hal-hal yang sepele atau sederhana. Contohnya bagi seorang ibu yang memiliki balita, sudah merasakan bahagia hanya dengan makan mie instan tanpa gangguan anaknya *curhat 😂, atau seorang pegawai yang terus-terusan lembur bisa merasa sangat bahagia ketika diberikan libur satu hari. Terlihat sepele, namun memang begitulah kenyataannya. Untuk bahagia seringkali tidak membutuhkan hal-hal yang mewah
Masalah kaus kaki memang masalah sepele, namun ini cukup menguatkan figur seorang Muslimah terkait dengan pemahaman agamanya, masalah sepele ini juga memperlihatkan komitmen seorang Muslimah dalam menjaga izzah atau kehormatannya.
Beberapa tahun lalu, ketika saya baru memakai jilbab saya juga kurang faham akan hal ini. Padahal saat itu saya berada di lingkungan pesantren, saya merasa dengan memakai jilbab yang menutupi dada dan pakaian yang longgar telah cukup untuk dikategorikan menutup aurat. Hingga teguran dari seorang senior membuat saya malu dan terus mengingat kebiasaan untuk memakai kaus kaki.
Semua perlu proses, begitu pula dengan hijrahmu. Namun harus diingat setiap proses juga perlu progres, jangan sampai hijrahmu mentok terus berusaha lebih baik, jangan lelah untuk teus mencari ilmu.
Mari hijabkan diri dengan sempurna, jaga izzah dan kehormatan kita sebagai Muslimah
Cari Blog Ini
ABOUT ME
Riska Naura. Ibu dua anak sekaligus guru yang hobi membaca dan menulis.
Archive
-
▼
2023
(6)
- ► September 2023 (3)
- ► Agustus 2023 (2)
-
►
2022
(6)
- ► November 2022 (1)
- ► September 2022 (1)
- ► Maret 2022 (1)
- ► Februari 2022 (1)
-
►
2020
(9)
- ► Oktober 2020 (1)
- ► April 2020 (3)
- ► Maret 2020 (4)
-
►
2019
(111)
- ► Desember 2019 (1)
- ► September 2019 (3)
- ► Agustus 2019 (1)
- ► April 2019 (15)
- ► Maret 2019 (17)
- ► Februari 2019 (18)
- ► Januari 2019 (16)
-
►
2018
(36)
- ► Desember 2018 (20)
- ► November 2018 (8)
- ► Oktober 2018 (2)
- ► September 2018 (6)
POPULAR POSTS
Categories
- #30haribercerita 5
- Artikel Islami 5
- Ayat Al Qur'an 2
- blogging 8
- BPN30dayramadhanchallenge 10
- buku 27
- cerita kehamilan 3
- cerita tentang buku 2
- Challenge 3
- cuitanku 2
- Diary Ummi 15
- Drama Rumah Tangga 5
- Estrilook 2
- Fashion 2
- Hikmah 3
- Islami 2
- Jalan-jalan 1
- Kecantikan 9
- kehamilan 1
- keluarga 5
- kesehatan 1
- Kuliner 3
- Lain-lain 3
- Lifestyle 2
- motivasi 1
- Musik 1
- nostalgia generasi 90an 1
- novel 1
- one day one post 3
- One Week One Book 4
- parenting 1
- Pernikahan 14
- quotes 1
- resume 1
- review buku 14
- Review Film/Drama 5
- shirah shahabiyah 7
- Slice of life 6
- Social Media 2
- Tips 10
- Webtoon 2
- Zona Akhwat 4





