Alhamdulillah masih menjalani masa-masa kehamilan trimester kedua, dimana banyak yang bilang kalo hamil pada fase ini merupakan fase yang paling enak. Kenapa tuh? Ya soalnya janin sudah lumayan kuat gak serentan waktu trimester pertama, udah gitu biasanya masa-masa ngidam yang meliputi pusing, mual dan muntah juga sudah terlewati
Tampilkan postingan dengan label Diary Ummi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary Ummi. Tampilkan semua postingan
Sudah satu pekan lebih sekolah diliburkan karena wabah virus Corona atau biasa disebut Covid 19, sebagai guru saya pun secara otomatis merasakan juga yang namanya work from home atau bekerja dari rumah, pembelajaran anak murid juga diberlakukan secara daring. Ya namanya juga bukan liburan kan, jadi meski di rumah tetap aja kudu ngecek tugas anak-anak via ponsel pintar. Nah gak lama sejak diberlakukannya pembelajaran secara daring, di media sosial rame emak-emak yang kewalahan alias jadi ikutan repot gegara anaknya dikasih tugas yang numpuk dari sekolahnya. Maklum mendekati ujian jadi kayaknya banyak guru yang masih ngejar materi. Di tempat saya ngajar pembelajaran diberlakukan jadwal normal meski jarak jauh. Jadi kalo misalnya dalam sehari ada lima mata pelajaran artinya murid juga menerima sebanyak lima tugas yang harus dituntaskan pada hari itu.
Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan dalam hidup saya untuk merasakan nikmatnya menjadi seorang Ibu, meski sudah 5 tahun berlalu namun saya ingin menuliskannya, semata-mata ingin berbagi 😊
5 tahun lalu tepatnya bulan Oktober di tahun 2014. Gak terasa akhirnya perjalanan kehamilan saya memasuki bulan ke 9, udah dag dig dug banget karena HPL (Hari perkiraan lahir) untuk kehamilan saya jatuh pada tanggal 21 Oktober 2014. Masih jauh sih emang, tapi udah grogi aja, maklum lah anak pertama jadi belum ada pengalaman apa-apa 😀
Rasa grogi semakin bertambah saat mengetahui teman saya yang juga lagi hamil dan HPL nya cuma beda sehari (saya tanggal 20 sedangkan teman saya tanggal 19) tau-tau sudah melahirkan, yang saya inget waktu itu bertepatan sama Iduladha. Persiapan juga belum semuanya kebeli, apalagi barang-barang yang harus dipacking saat mau melahirkan seperti baju ganti, pembalut, sarung, dan teman-temannya belum sama sekali saya siapkan. Superrr nyantai 😁
Bagaimana bila kita berbicara tentang 10 tahun dari hari ini? Di hari itu usia kita mungkin sekitar 30 tahun (bisa kurang /lebih). Di hari itu pertanyaan2 kita hari ini tentang masa depan mungkin sudah terjawab.
Siapa pasangan hidup kita (bagi yg belum menikah), apakah anak kita laki2 atau perempuan, dimana akhirnya qt tinggal. Dan segala pertanyaan yg membuat qt resah dan cemas pada hari ini.
Apakah kita berusaha mewujudkan semua dg sungguh2 atau biasa2 saja. Hari inilah kita menciptakannya. Kita harus berlelah-lelah belajar, berusaha dg sungguh2 dan terus memperbaiki diri. karena apa yg qt dapatkan di masa mendatang adalah hasil dr apa yg qt usahakan hari ini.
Bagi saya yang lahir dan besar di kota Bekasi hanya bisa nonton orang-orang yang mudik. Selama 23 tahun saya tidak pernah merasakan bagaimana rasanya merindukan kampung halaman. Saat orang-orang sibuk mudik, ya udah saya cuma jadi penonton aja. Gak pernah merasakan bermacet-macet ria, juga gak pernah merasakan rebutan beli tiket jauh sebelum waktu mudik tiba demi mendapatkan harga yang murah
Tapi itu kondisi beberapa tahun yang lalu
Setelah menikah barulah saya bisa merasakan serunya mudik ke kampung halaman.
Ternyata beginilah rasanya mudik,
Rela menempuh perjalanan yang nggak sebentar, belum lagi kalo dapat tambahan bonus yaitu berupa macet.
Namun semua itu terbayar dengan melepas rindu bertemu dengan keluarga tercinta
Itulah mengapa orang rela untuk bermacet-macet ria demi mudik ke kampung halaman
Mudik bagi saya bukan sekedar melepas rindu, namun dari mudik lah saya mendapat pelajaran.
Yaitu, jika mudik ke kampung halaman saja persiapan kita begitu maksimal, maka untuk mudik ke kampung akhirat kita harus mempersiapkannya lebih maksimal lagi. Jangan sampai kita lalai dengan persiapan kita untuk mudik ke kampung yang lebih abadi, yaitu akhirat
Semoga Allah mampukan
Padahal sebelum Ramadhan tuh ya, saya udah prepare banget kayak persiapan buat lebaran, misalnya baju udah beli, kue kering udah pesan. Tujuannya ya itu supaya ibadah saat Ramadhan tenang, gak keganggu sama nyari-nyari baju dan segala printilannya. Tapi ya qo ada aja yang kurang dan mengharuskan beli saat hari-hari terakhir Ramadhan. Maklum lah ya THR baru cair Mak menjelang 10 hari terakhir 😅
Meski begitu saya tetap donk usaha buat lebih maksimal di penghujung Ramadhan, tetap gak mau Ramadhan tahun ini sia-sia.
Saya sendiri berusaha supaya Ramadhan tahun ini lebih maksimal beribadah, lebih produktif juga dalam mengisi waktu, gak kebanyakan tidur hehe
Memang beberapa target tercapai, tapi sedihnya kebanyakan yang belum tercapai. Tapi semoga di mata Allah Ramadhan tahun ini saya lebih baik dari tahun lalu. Namanya juga hidup, kita harus kan ya meningkatkan kualitas dari tahun ke tahun.
Harapan dari tahun ke tahun kalau saya bilang semua orang punya harapan yang sama ya. Yaitu minta dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan, tentu dengan kondisi keimanan yang lebih baik. Aamiin
Intinya saya sedih karena Ramadhan tahun ini apa yang sudah saya targetkan sejak awal banyak yang tidak tercapai. Tapi masih ada waktu 2 hari menjelang Syawal. Tidak ada kata terlambat kan untuk sebuah ketaatan?
Bekasi, 28 Ramadhan 1440 H/ 02 Juni 2019 M
Riska Naura
Good bye May, welcome June
Gak terasa waktu cepat banget berlalu, tau-tau udah bulan Juni aja
Alhamdulillah Allah masih kasih saya kesempatan untuk ada, semoga kesempatan yang Allah kasih bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Aamiin
Banyak hal luar biasa terjadi di bulan Mei, sebagai seorang yang aktif di dunia pendidikan pasti pada tau donk kalau bulan Mei kemarin menjadi bulan terakhir aktif belajar sebelum nanti dimulai tahun ajaran baru. Lumayan hectic banget, hampir 'tumbang' tapi Alhamdulillah masih Allah kuatkan
Ada yang sedih ada juga yang buat senang. Pada intinya setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita tentu patut kita syukuri.
Inilah 5 hal penting yang terjadi dalam hidup saya di bulan Mei
1. Dapat sertifikat atas konsistensi saya membaca, Alhamdulillah semoga semakin meningkatkan minat baca dengan adanya gerakan ini
2. Bulan Mei ternyata bulan dengan jumlah postingan blog saya terbanyak, yaitu mencapai 20 tulisan. Bukan apa-apa mengingat bulan Mei juga lagi sibuk-sibuknya jadi agak takjub aja gitu
3. Dapat sertifikat dari beberapa komunitas blogger dan kelas menulis
4. Zaara, anakku yang berusia 4,5 tahun terkena herpes (sejenis penyakit kulit), pengalaman pertama banget menangani anak yang sakit herpes. Alhamdulillah anaknya gak rewel, gak ada demam juga. Rutin aja dioles minyak herbal.
5. Suami milad yang ke 27 tahun, gak ada perayaan apa-apa sih karena udah terbiasa gak pernah merayakan ultah. Terselip doa aja sih semoga makin dewasa, gak terasa soalnya pas nikah dulu suami masih umur 21, eh sekarang udah menuju kepala 3 😂
Nah itulah 5 hal penting yang terjadi di bulan Mei, semoga Juni bisa lebih baik, Aamiin
Pas sengaja mau nulis mumpung ada waktu luang eh ide gak muncul-muncul, giliran lagi gak niat nulis tetiba ide muncul begitu aja, langsung deh buru-buru ambil notes kecil takut keburu kabur idenya hehe...ada yang samaan gak?
Membangun sebuah habit (kebiasaan) menulis memang gak semudah mengobrol dengan tetangga 😂, dibutuhkan kemauan yang kuat. Apalagi kalau banyak godaannya, ya hape, anak, atau bahkan tidur. Padahal dalam hati udah janji mau rajin nulis, kalau bisa setiap hari, lha qo ada bunyi notifikasi grup aja gatel pengen ikut nimbrung, pasti gak cukup sampe disitu, belom lagi scroll akun instagram lambe-lambean biar update dan gaul, yah gagal lagi deh marathon nulisnya 😁
Bismillah,
Apa kabar Maret-mu? Semoga bulan ini lebih baik dari bulan lalu ya, mari kita tinggalkan Maret dengan senyuman dan mengenang beberapa moment atau peristiwa yang terjadi. Apa pun itu senyumin aja, susah senang tetaplah bersyukur. Hidup ini memang penuh lika liku, ada masanya kita di atas dan ada waktunya kita berada di bawah
Nah, buat saya menuliskan moment yang telah dilewati merupakan sebuah bentuk rasa syukur. Jika momentnya menyenangkan, berarti ia akan abadi lewat tulisan, jika momentnya menyedihkan maka tersenyumlah karena ternyata kita telah mampu melewatinya
Kira-kira inilah moment penting yang terjadi di bulan Maret saya, yaitu
Sebagai makhluk sosial, sudah pasti manusia tidak bisa lepas dari bantuan orang lain. Sudah fitrah manusia kayaknya ya selalu butuh manusia lainnya sebagai penolong, sebagai tempat curhat atau sebagai teman shopping (maksudnya ke tukang sayur)😁. Semua itu gak mungkin dilakukan kalau kita tinggal sendirian kan? hehe..iyalah masa mau bergaul dengan makhluk tak kasat mata
Bismillah...
Alhamdulillah setelah beberapa hari kemarin sempat sakit dan terbaring lemah tak berdaya 😂. Kini Allah kembalikan nikmat sehat, maasya Allah tabaarakallah makasiih banget Allahku 💕. Otomatis blog jni menjadi sedikit terbengkalai. Padahal lagi nantang diri sendiri untuk menulis full di bulan Februari ini, ehh qoddarullah harus istirahat.
Punya anak merupakan impian setiap pasutri, terutama yang sudah bertahun-tahun menikah namun belum juga dikaruniai keturunan. Apalagi pertanyaan "udah hamil belum?" menjadi salah satu pertanyaan paling populer setelah menikah. Iya sih katanya pertanyaan tersebut nunjukin perhatian, tapi kalo terlalu sering lama-lama bikin gerah juga ya 😆
Anak merupakan hak prerogatif Allah, kalau kata Allah sudah waktunya punya, langsung bisa hamil bahkan tanpa promil sekalipun, sebaliknya kalau kata Allah belum waktunya, ya mau ikhtiar pakai promil apa pun ya belum dikasih deh tuh jadinya. Beberapa orang beruntung bisa langsung hamil setelah menikah. Termasuk saya, dalam jangka waktu kurang dari setahun pernikahan saya dan suami sudah dihiasi oleh kelucuan seorang anak. Beberapa teman saya yang saat ini sudah lebih lama menikahnya namun belum juga menemukan garis merah 2 di alat pendeteksi kehamilan sering banget ngiri. Saya cuma bisa mendoakan mereka agar segera dikaruniai momongan di waktu yang tepat. Aamiin 😇
Tapi tahukah mereka, apa yang saya rasakan ketika usia pernikahan baru hitungan bulan tapi sudah gak kuat bangun dari tempat tidur gara-gara mabok 😂, belum juga sempat honeymoon (maklum cuti cuma seminggu dan sehari setelah saya menikah langsung hujan terus-terusan sampai banjir dimana-mana) udah gak kuat pergi karena lemes banget. Yup di trimester pertama kehamilan saya emang payah banget, gak ada makanan yang bisa masuk, bahkan air putih sekali pun. Praktis saya dan suami gak pernah tuh ngerasain honeymoon di tempat yang jauh, honeymoon nya di rumah aja 😁giliran udah lewat masa-masa mabok, tetep gak bisa pergi juga karena perut semakin membesar.
Plus Minus Langsung Hamil Setelah Menikah
Maka langsung hamil setelah menikah itu tetep ada plus minusnya qo, berkaca dari kisah saya inilah plus minusnya langsung hamil setelah menikah
Plus
- Punya anak diusia muda memang asyik, katanya mumpung tenaga kita masih kuat buat urusin baby, karena setelah 30 tahun ke atas raga sudah tak sama lagi
- Setidaknya menghentikan pertanyaan "kapan hamil" dari orang-orang
- Kesempatan menerapkan ilmu parenting dan pengasuhan anak lebih cepat
Minus
- Kesempatan berdua sama suami praktis berkurang
- Kesempatan untuk belajar lebih banyak ilmu parenting berkurang
- Gak bisa bebas ngebolang bareng suami/teman
Intinya mau langsung hamil atau nggak pasti ada plus minusnya, maka saya berharap bagi siapa pun yang sedang menantikan kehadiran buah hati dan membaca tulisan saya maka janganlah berkecil hati, soal anak bukanlah sesuatu yang harus diratapi. Yang penting jangan menyerah terus ikhitiar diiringi dengan berdoa 😊
Menunggu bagi sebagian orang sangat membosankan, apalagi bagi jomblo yang sedang menunggu jodohnya 😂. Eit baru kalimat pembuka qo udah nyinyirin jombloers ya hehe....*becanda
Lah, saya sendiri juga waktu masih jadi singlelillah juga gitu qo, bosan nungguin jodoh yang tak kunjung datang. Sampai akhirnya menyerah dan pasrah lalu Allah kirimkan pangeran berkuda besi alias bermotor 😁.. Ya Allah fokus...fokus...tulisan ini bukan pengen ngebahas jodoh, meski kalau dikaitkan dengan menunggu jodoh masih ada korelasinya sii hehe
Saat dirimu galau memilih sekolah buat anak, maka sadarlah disitu kau sudah jadi emak-emak 😂. Akhirnya sampai juga saya dalam fase ini. Anak saya yang pertama dan (masih) jadi satu-satunya, Naura Thalita Zaara (panggil aja Zara) sebentar lagi akan memulai sekolah di jenjang TK A , di tahun ajaran baru sekitar bulan juli, tapi sampai saat ini emaknya masih galau mau daftar ke sekolah yang mana
Padahal di kompleks tempat saya mengajar sehari-hari, jenjang pendidikannya sudah lengkap mulai dari TK sampai Sekolah Tinggi, hanya saja entah mengapa saya kurang sreg untuk mendaftarkan anak saya ke TK nya. Tentunya dengan berbagai pertimbangan termasuk biaya ya hehe...😀
Pertimbangan Saya Ketika Memilih Sekolah
Sebelum mendaftarkan anak untuk masuk sekolah, ada beberapa pertimbangan saya ketika memilih sekolah untuk anak. Dalam hal ini khususnya sekolah TK ya, karena anak saya baru mau masuk TK. Tapi mungkin bisa juga pertimbangan ini sama dengan para emak yang mau mendaftarkan sekolah anaknya ke jenjang yang lebih tinggi
Nah ini beberapa pertimbangan saya saat memilih sekolah untuk anak
1. Kualitas Pengajar
Ini nomor satu sih ya buat saya, terutama sekolah TK yang betul-betul menuntut pengawasan penuh dari tenaga pengajarnya. Trus darimana donk kita bisa tahu kualitas pengajarnya, masa iya harus nongkrongin sekolah yang dituju? Ya gak gitu juga sih hehe...kalo saya biasanya akan tanya ke emak-emak yang sudah pernah menyekolahkan anaknya di tempat yang sama. Semacam testimoni gitu, nah seenggaknya dari situ kita bisa dapat gambaran tentang kualitas pengajarnya. Untuk yang satu ini bahkan saya berani bayar mahal jika memang pengawasan dari gurunya betul-betul maksimal. Mungkin beberapa orang mengutaman fasilitas, justru buat saya fasilitas nomor 2 hehe, kenapa? karena yang menurut saya yang akan membentuk karakter anak itu adalah gurunya, fasilitas hanya media pendukung
2. Fasilitas
Nah bener kan bagi saya fasilitas nomor 2. Tentunya fasilitas juga hal yang tidak bisa diabaikan dalam memilih sekolah. Tapi perlu diingat, biasanya fasilitas itu tergantung dari besarnya biaya yang dikeluarkan. Jangan sampai kita sudah bayar mahal tapi fasilitas yang didapatkan seadanya. Untuk mengetahui apakah fasilitas sesuai dengan biaya yang dikeluarkan bisa dengan survey ke sekolah yang dituju. Bagi saya ruang kelas yang nyaman, arena bermain yang aman (bagi jenjang TK) sudah cukup memenuhi fasilitas menurut standar saya
3. Biaya
Kenapa saya menempatkan biaya di urutan terakhir? Karena jika kualitas pengajar dan fasilitasnya bagus, maka sudah bisa dipastikan biaya yang akan dikeluarkan pun setimpal. Apalagi setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya termasuk masalah pendidikan, pastinya bukan hanya saya yang mau beusaha mengeluarkan biaya yang sesuai dengan 2 kriteria yang sudah disebutkan diatas
Itulah 3 pertimbangan saya saat memilih sekolah bagi anak, intinya sih saya juga gak mau terlalu memaksakan diri, sesuaikan dengan budget aja. Karena tanggung jawab dan pembentukan karakter pada anak adalah tugas utama orang tua di rumah, sekolah hanya membantu. Sharing juga donk mak, pertimbangan kalian saat memilih sekolah bagi anak
Salah satu perdebatan yang tiada akhirnya dikalangan emak-emak adalah "ibu bekerja vs ibu rumah tangga" yang ibu bekerja merasa lebih baik dan bergengsi karena bisa membantu finansial keluarga, begitupun sebaliknya ibu rumah tangga (IRT) merasa lebih mulia karena bisa fokus mengurus keluarga. Tapi tahukah wahai para emak, yang paling menyebalkan diantara keduanya adalah mereka yang merasa lebih baik dari salah satunya 😂
Ibu Bekerja vs Ibu Rumah Tangga
Padahal tanpa disadari, kedua status tersebut tidak ada bedanya qo, keduanya sama-sama bekerja, iya kan? hanya berbeda tempat. Yang satu mungkin kerjanya di ranah publik, sedangkan yang satunya lagi kerjanya di rumah baik murni mengurus keluarga atau yang punya bisnis dari rumah, banyak kan sekarang emak-emak cetar, biar berdaster tapi tetap berpenghasilan 😁. Kalau dipikir-pikir mana ada yang nganggur begitu aja, jadi plis hentikan perdebatan ini, hayati lelah mak 😂
Hidup Itu Pilihan
ciee...sok bijak ceritanya, tapi betul kan ya bahwa hidup ini adalah pilihan, dan dari setiap pilihan pasti mengandung resiko. Saya sudah memilih untuk menjadi ibu bekerja atau bahasa kerennya working mom dan saya sadar akan resiko yang saya terima seperti waktu kebersamaan dengan anak yang berkurang, tapi salah satu impian saya ya menjadi IRT sepenuhnya hanya saja belum tau waktunya kapan, ya untuk saat ini disyukuri dan dijalani saja
Begitupun dengan emak-emak yang lebih memilih untuk menjadi IRT baik murni IRT atau pun yang menyambi bisnis dari rumah, mereka juga sudah memilih dan mereka pun pasti tau bahwa ada resikonya.
Saya juga yakin qo, semua ibu di dunia pasti nalurinya menjadi ibu seutuhnya yang punya waktu full buat anak dan keluarganya, hanya saja kita gak pernah tau apa alasan seseorang memilih menjadi working mom (ibu bekerja), maka kita hargai saja pilihan masing-masing 😊
Sama-sama Mulia
Saya pikir dua-duanya sama mulianya, ibu bekerja karena dia bekerja atas ridho suaminya dan sungguh-sungguh untuk membantu finansial keluarganya maka tidak sia-sialah pengorbanannya. Begitupun dengan ibu rumah tangga, yang rela menghabiskan sepanjang waktunya untuk berbakti, mengurus dan melayani keluarganya padahal mungkin saja punya potensi untuk bekerja di luar tapi lebih memilih diam di rumah, dijalani dengan ikhlas dan penuh syukur, Insya Allah pahala pun menantinya 😍
Cari Blog Ini
ABOUT ME
Riska Naura. Ibu dua anak sekaligus guru yang hobi membaca dan menulis.
Archive
-
▼
2023
(6)
- ► September 2023 (3)
- ► Agustus 2023 (2)
-
►
2022
(6)
- ► November 2022 (1)
- ► September 2022 (1)
- ► Maret 2022 (1)
- ► Februari 2022 (1)
-
►
2020
(9)
- ► Oktober 2020 (1)
- ► April 2020 (3)
- ► Maret 2020 (4)
-
►
2019
(111)
- ► Desember 2019 (1)
- ► September 2019 (3)
- ► Agustus 2019 (1)
- ► April 2019 (15)
- ► Maret 2019 (17)
- ► Februari 2019 (18)
- ► Januari 2019 (16)
-
►
2018
(36)
- ► Desember 2018 (20)
- ► November 2018 (8)
- ► Oktober 2018 (2)
- ► September 2018 (6)
POPULAR POSTS
Categories
- #30haribercerita 5
- Artikel Islami 5
- Ayat Al Qur'an 2
- blogging 8
- BPN30dayramadhanchallenge 10
- buku 27
- cerita kehamilan 3
- cerita tentang buku 2
- Challenge 3
- cuitanku 2
- Diary Ummi 15
- Drama Rumah Tangga 5
- Estrilook 2
- Fashion 2
- Hikmah 3
- Islami 2
- Jalan-jalan 1
- Kecantikan 9
- kehamilan 1
- keluarga 5
- kesehatan 1
- Kuliner 3
- Lain-lain 3
- Lifestyle 2
- motivasi 1
- Musik 1
- nostalgia generasi 90an 1
- novel 1
- one day one post 3
- One Week One Book 4
- parenting 1
- Pernikahan 14
- quotes 1
- resume 1
- review buku 14
- Review Film/Drama 5
- shirah shahabiyah 7
- Slice of life 6
- Social Media 2
- Tips 10
- Webtoon 2
- Zona Akhwat 4


















